Rabu, 07 Mei 2014

Rusdi Kirana: Sang Bos Lion Air


Berbicara maskapai penerbangan di Indonesia, pastinya masyarakat telah mengenal Lion Air. Perusahaan penerbangan komersial dengan logo Singa ini adalah salah satu maskapai penerbangan yang murah dan terjangkau kalangan masyarakat menengah. Eksistensi Lion adalah fenomena tersendiri dalam dunia penerbangan komersil. Di tengah kondisi Indonesia masih kurang stabil di tahun 2000, dua tahun pasca runtuhnya rezim Suharto, Lion Air malah muncul dengan kepercayaan tinggi.   

Segudang prediksi negatif berseliweran menghantui maskapai baru ini. Alasannya, karena selain kurang stabilnya kondisi perekonomian Indonesia dan berbisnis maskapai penerbangan akan sangat berbeda dengan berbisnis biro perjalanan wisata yang selama ini ditekuni sang pendiri Lion Air. Namun, hal itu tidak menggemingkan Lion Air untuk terus melangkah maju menjadi maskapai penerbangan yang diminati masyarakat.

*** 

Rusdi Kirana lahir pada tanggal 17 Agustus 1963, sosok kalem dan bersahaja ini bersama sang kakak, Kusnan Kirana, berduet menukangi Lion Air. Secara background kehidupan keluarga, keduanya telah tertanam jiwa bisnis semenjak kecil dari ke dua orang tuanya yang seorang pedagang. Pengaruh didikan keras orang tuanya menjadikan mereka tahan banting dan pantang menyerah dalam menjalankan suatu bisnis. Pantas bila Lion Air bisa sebesar seperti sekarang ini.

Awal sejarah berdirinya Lion Air dimulai pada tahun 2000 dengan modal satu pesawat zet, setelah mereka sukses selama 13 tahun menjalankan bisnis biro perjalanan wisata yang mereka namai Lion Tours. Pengalaman biro perjalanan dalam bidang wisata ini modal utama mereka mantap membangun Lion Air. 

Dengan motto: “We Make People Fly” rute jadwal penerbangan Lion Air telah merambah seluruh wilayah Indonesia dan juga luar negeri yakni, Singapura, Kuala Lumpur, dan juga Ho Chi Min. Hal ini berkat kerja keras dan keseriusan mereka yang tidak mau cepat puas, dan juga pelayanan kenyamanan dan keamanan kepada penumpang terus mereka tingkatkan, sehingga penumpang puas walaupun harga tiket Lion Air murah dibandingkan maskapai lainnya. 

Lion Air merupakan pelopor awal maskapai di Indonesia yang menggunaan pesawat jenis Boeing 737-900ER dengan kuantitas yang cukup besar. Lalu pada tahun 2011, Lion melakukan pembelian 201 pesawat Boeing yang nilainya mencapai USD 22 miliar (Rp 214 triliun). Setelah pembelian Boeing pada bulan Maret 2013 berlanjut pembelian 234 pesawat Airbus jenis A320 (109 pesawat jenis A320neo, 65 A321neo, dan 60 A320ceo) yang ditandatangi oleh Rusdi Kirana dan CEO Airbus, Fabrice Bregier, di Paris dengan total dana yang dikeluarkan pihak Lion Air sebesar USD 24 miliar (Rp. 233 triliun).

Kesuksesan mereka berdua di dunia maskapai penerbangan komersil Indonesia. Menempatkan Rusdi dan Kusnan Kirana pada tahun 2012 terdaftar sebagai orang terkaya di Indonesia.

Menariknya di tahun pemilu 2014, Rusdi Kirana selaku Direktur Utama Lion Air mengundurkan diri untuk lebih fokus di dunia politik bergabung dengan PKB, dengan jabatan struktur organisasi sebagai wakil ketua umum PKB, di bawah langsung Muhaimin, walaupun sempat santer dijagokan sebagai capres konvensi Patai Demokrat.

Tapi, walaupun Rusdi keluar dari Lion Air tidak sepenuhnya ia meninggalkan dunia bisnis yang telah membesarkan nama dan memperbanyak kekayaannya. Rusdi masih Presiden Direktur Lion Group. Dengan sektor bisnis yang dibawahi Lion Group yaitu: Lion Air, Batik Air, Malindo Air, Wings Air, Thai Lion Air, dan juga Lion Hotel & Plaza serta surat kabar.



Selasa, 06 Mei 2014

Bisnis EO & WO Rina Gunawan



Pastinya kita pernah mendengar dan kenal nama Rina Gunawan? Wanita berjilbab ini awalnya terkenal sebagai seorang penyanyi. Kemudian aktivitasnya di jagad hiburan merambah ke dunia presenter acara talk show ‘campur-campur’ dan juga memerankan beberapa sinetron seperti Mat Angin, Pat Pat Gulipat dll. Ya, kepopulerannya sebagai artis ini tidak menghalanginya membangun bisnis jasa EO. Yang dari waktu ke waktu bisnis EO yang dijalani Rina berkembang pesat dengan client kalangan artis dan pejabat di Indonesia. 

Nah, sebenarnya siapa sosok Rina ini dan mengapa harus terjun menekuni dunia EO, sehingga dunia hiburan dan peran yang membesarkan namanya tersebut harus ia tinggalkan?

***

Membicarakan pebisnis EO di Indonesia, sosok Rina memang menyimpan daya tarik untuk menuliskannya. Meskipun masih banyak pebisnis EO di tanah ini yang lebih populer dan berpengalaman dibandingkan dengan bisnis EO Rina sendiri. Namun hal ini bukan persoalan saya, tapi karena saya lebih melihat dari capaian bisnis EO yang telah 10 tahun lebih ia jalankan bisa diterima di kalangan client, terutama kalangan artis dan pejabat di Indonesia. 

***

Nama lengkapnya adalah Rina Mustikana Gumilang Gunawan, dilahirkan di Bandung, pada tanggal 28 Juni 1974, bersuami Teddy Syah yang berprofesi sebagai aktor sinetron. Namun, suami Rina ini masih eksis di jagad dunia peran, sedangkan Rina harus fokus membesarkan bisnis EO-nya.

Awalnya Rina bergelut dalam bisnis EO karena permintaan Krisdayanti membantunya manage ulang tahun Aurel dan Azriel, ke dua putra dan putri Krisdayanti. Lalu, giliran Eko dan Viona menawarinya mengatur dan mengurusi pernikahannya. Selain alasan kegemaran dan kesenangannya berinteraksi dengan banyak orang, dan juga banyak rekan-rekan teman artisnya kesulitan dan kebingungan ketika hendak melangsungkan resepsi pernikahan, karena kesibukan syuting mereka dan kurangnya pengetahuan vendor pernikahan yang berkualitas. Dari pengalaman dan alasan inilah memantapkannya segera membangun bisnis EO.  

Akhirnya pada tahun 2000, Rina Gunawan Wedding & Event Organizer resmi berdiri. Yang target marketnya khusus pada jasa hiburan (showbiz entertainment) dan Event Organizer & Wedding Organizer serta melayani kids party.

Bukti prestasi Rina di bawah naungan perusahaan bisnisnya: Rina Gunawan Wedding & Event Organizer diantaranya: pernikahan Bunga Citra Lestari & Ashraff Sinclair, Eko Patrio, Nico Siahaan, Dina Lorenza, Marshanda, Fery Maryadi, Monica Oemardi, Ussy Sulistiawaty, dan birthday party Alissa Soebandono, penyanyi dangdut Kristina, bahkan menghandle launching produk Simas Margarin, Komatsua€ dll.

***

Itulah Rina Gunawan, kejeliannya dalam melihat peluang bisnis dalam pergaulan dengan teman-temannya di dunia hiburan Indonesia menempatkan Rina sebagai pebisnis EO yang patut menginspirasi kita.




Senin, 05 Mei 2014

Bob Foster Dengan Ganesha Operation-nya



Saya sering menyaksikan keponakan selalu membawa textbook bila hendak pergi ke sekolah, setiap materi pelajaran memiliki textbook masing-masing. Sehingga, text book yang ia bawa di dalam tas tersebut bila digendong terasa berat dan membebani. Namun, hal itu bukan masalah baginya. Yang penting text book tersebut bisa mendukung kemampuannya belajar di sekolah. 

Dan text book tersebut setiap semester harus ia beli dan miliki, karena tiap semester materi pembelajaran berbeda. Mengakibatkan cost pendidikan mahal. Tapi bagi yang mampu membelinya, bukan masalah. Sebaliknya bagi yang kurang mampu, upaya meminjam dari teman atau pergi keperpustakaan adalah langganan. Dan saya sendiri, salah satu tipikel yang paling senang pergi ke perpustakaan, duduk seharian melahap berbagai macam buku. 

Namun, ada juga untuk menunjang penguasaan materi pembelajaran di sekolah yaitu dengan mendaftarkan diri di sebuah lembaga kursusan yang tersebar luas hampir di sekolah-sekolah. Salah satu lembaga kursusan yang paling banyak diminati adalah Ganesha Operation. Kelebihan lembaga kursusan ini, sebagaimana ungkap keponakanku yang sekarang duduk di bangku MA dan sudah setengah tahun bergabung dengan GO, karena metode penyampaian materi pembelajarannya asyik dan menyenangkan ditunjang dengan rumus cepat mudah untuk dimengerti.

Ungkapan keponakanku ini membakar keingintahuan saya tentang sepak terjang siapa orang dibalik berdirinya GO, sehingga lembaga ini diminati oleh pelajar-pelajar sekolah dan bisa mendulang keuntungan secara bisnis?
   
***

Ialah Pdt. DR. Ir. Bob Foster, M.M, dilahirkan Pematang Siantar, tanggal 6 Januari 1958 otak dibalik berdirinya GO. Bisnis jasa kursusan yang ia jalankan telah menyebar, mengepakkan sayapnya di kota-kota besar di wilayah Indonesia.  

Mencapai level ini bukan perkara mudah layaknya kita membalikkan telapak tangan. Perlu kesabaran, keuletan, konsistensi, kreativitas dan inovasi yang ekstra. GO yang berdiri pada 1 Mei 1984 di Bandung ini awalnya hanya merambah pada program materi belajar kelas 3 SMU yang fokus menghadapi saringan masuk PTN dan kelulusan sekolah, tapi kini semua jenjang kelas di sekolah baik untuk meningkatkan prestasi belajar dan masuk PTN mulai dari SD, SMP dan SMA telah GO rambah juga.

Awal masa berdiri GO hingga tahun 1992, GO masih berkutat di Bandung. Menginjak tahun berikutnya, tahun 1993, cabang GO yang pertama dibuka dan diresmikan di Denpasar, Bali. Dua tahun berikutnya, tahun 1995, GO mengalami perkembangan yang sangat signifikan hingga cabang-cabang GO menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, dengan jumlah siswa mencapai ribuan. 

Fakta tersebut membuktikan GO pantas memperoleh hasil seperti saat ini. Karena memperoleh pengakuan dari konsumen bukan perkara mudah, terutama dalam bisnis jasa pendidikan yang memiliki saingan yang super ketat. Pastinya keberhasilan Bob Foster dalam menggawangi GO tidak lepas dari pemahaman dalam menerapkan unsur penting suksesnya proses belajar-mengajar yang diantaranya: pengajar yang berkualitas, materi pelajaran yang relevan, metodologi pengajaran, teknologi dan informasi yang up to date. Standart-standart inilah yang terus GO tekankan dalam menjalankan bisnis jasa pendidikannya.   

Dengan Motto ‘The King of the Fastest Solution’, GO selalu mempelopori penemuan rumus-rumus sakti seperti metode the king, chungking, tepis dan metode lainnya; yang memudahkan siswanya menyelesaikan berbagai macam soal-soal yang diujikan. Metode ini lah menempatkan GO sebagai lembaga kursusan yang diminati para pelajar di sekolah.

Capaian siswa GO selalu mengukir prestasi di sekolah dan banyaknya lulusan GO yang berhasil diterima di perguruan-perguruan tinggi negeri nasional dan selama empat tahun berturut-turut ini GO sukses menorehkan tinta emas ‘juara UN seluruh Indonesia’. Karena materi yang disampaikan mengarah pada kesuksesan siswa untuk diterima PTN favorit, sebagaimana juga yang buku-buku ajar terutama Fisika yang ditulis Bob Foster berisi uraian dan soal-soal yang mengarah pada soal-soal ujian masuk PTN. Sehingga, GO selalu menjadi market leader lembaga kursusan yang sedang naik daun saat ini.

Prinsip bisnis yang diterapkan Bob Foster di GO adalah aplikasi manajemen ala modern berlandaskan filosofi nilai etika dalam pendidikan, dengan kualitas pelayanan pendidikan yang unggul. Siswa selaku objek market harus diberikan kepuasaan setiap apa yang mereka inginkan. Sehingga, istilah student satisfaction selalu dijunjung tinggi oleh GO.

Sehingga, pantaslah GO mendapat penghargaan TOP BRAND sebagai bimbel terpopuler di Indonesia, dan pada tanggal 23 Oktober 2013 bertepatan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) di halaman gedung Kesenian Kabupaten Bogor, Direktur Utama GO: Dr.Ir.Bob Foster, M.M. memperoleh ‘trophy dan penghargaan’ dari kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Lalu GO juga memperoleh penghargaan sebagai Masyarakat Berprestasi dari Pemerintah pada peringatan Hari Kemerdekaan RI di Gedung Sate, Bandung, penghargaan langsung diserahkan oleh Ahmad Heryawan selaku Gubernur Jawa Barat.
.

Minggu, 04 Mei 2014

BISNIS OH BISNIS

Budaya mandiri menjadi seorang pebisnis di Indonesia masih kurang begitu diminati. Mereka lebih memilih menjadi pegawai pemerintahan atau bekerja di perusahaan multinasional yang lebih menjanjikan secara finansial dan jaminan hidup, padahal mereka telah terdidik dan memiliki skill yang mumpuni lulusan sebuah universitas ternama baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Kalo toh ada kemauan, dengan pengetahuan yang dimiliki merupakan modal menjadi seorang pebisnis yang mandiri. Hanya saja mental ini tidak dimiliki. Karena masih dihinggapi perasaan takut gagal bertempur. Atau segudang alasan klasik, yakni kurang modal. 

Tuntutan manusia yang paling prinsipil adalah bagaimana ‘survive’, menopang kebutuhan dasar kehidupan. Ya, perut yang tidak bisa ditawar-tawar lagi jika rasa lapar datang tiba-tiba. Sinyal ini pertanda manusia harus makan. Memang banyak cara memperoleh makan: berbisnis, bertani, berkebun, atau bekerja di pabrik dll. Alasannya? Karena dengan usaha itu, sumber makanan akan terpenuhi. Lain halnya, jika sumber makanan itu anugrah yang telah disediakan dari alam, manusia tinggal mendapatkannya saja. Dan ini hanya bisa diperoleh jika manusia tinggal di sekitar alam rimba yang dekat dengan sumber makanan, tapi bila manusia jauh dari sumber makanan yang telah disediakan alam, usaha optimal dengan berbagai macam cara akan manusia lakukan, asalkan perut ini kenyang. Namun, faktanya persediaan sumber makanan dari alam sudah mulai berkurang, karena eksploitasi gila-gilaan tanpa pernah memperhatikan akibat kerusakan yang ditimbulkan.  Eksploitasi tanpa memperhatikan harmonisasi hubungan antara manusia dan alam. Eksploitasi demi kepentingan bisnis yang dijalankannya; terpenting bagaimana sumber kekayaan alam tersebut bisa memberikan keuntungan maksimal.

Kebutuhan akan barang selalu memiliki kaitan kuat dengan yang disediakan oleh alam; karena alam merupakan bahan baku untuk menghasilkan berbagai macam jenis barang yang diinginkan manusia, dan kebutuhan jasa sebagai penunjang setiap pola dan variasi produksi barang bisa diminati dan sampai ke tangan konsumen. Ke dua kebutuhan ini adalah hal krusial yang terus manusia kejar, yang memberikan peluang dan sumber penggerak untuk membangun bisnis. Tergantung peluang potensial mana yang akan dibidik dan dijalankan.

Oleh sebab itu, seorang pebisnis harus menguasai dan berpengalaman di suatu bidang bisnis tertentu. Jangan pernah sama sekali berbisnis tanpa pengetahuan yang mendalam. Maka, solusinya adalah bertanya kepada yang lebih ahli dan berpengalaman dan juga lakukan penelitian. Agar, langkah ini menjadi penunjang setiap bisnis bisa berjalan dengan sukses.

Umumnya, praktek bisnis dengan teori yang pernah dipelajari dibangku universitas dan sekolah kadang berbanding terbalik. Dan bukan suatu jaminan penguasaan keilmuan tentang bisnis tertentu memberikan keberhasilan. Ada juga hanya bermodal mental bisnis yang kuat dan modal keuangan pas-pasan, serta pengalaman yang biasa-biasa saja tanpa teori bisnis yang berjubel malah mampu menjadi seorang pebisnis yang sukses. Pebisnis yang mandiri.

Lo kok bisa? Ya karena keyakinan, kerja keras, insting berbisnis pantang menyerahlah salah satu daya kesuksesan. Teori bisnis nomer dua. Terpenting praktek langsung terlebih dahulu. Barulah konstruksi teori keilmuan.

***

Membicarakan masalah praktek dengan teori berbisnis memang perbincangan yang hangat dan tak jarang argumen-argumen kuat harus disodorkan. Namun, saya sendiri akan mengisahkan mengalaman pribadi yang menginspirasi dan dasar untuk mengulas antara parktek dan teori berbinis.

Empat tahun lalu di Bali, saya intens bergaul dengan teman-teman dari kepulauan Raas, Madura. Bagi saya pribadi, mereka adalah sumber inspirasi pebisnis yang ulet dan sukses. Hanya bermodal bahasa Inggris pas-pasan dan tekad yang kuat. Bisnis yang mereka jalankan menghasilkan keuntungan yang berlimpah, efeknya sandang, pangan dan papan tercukupi. Yang dikampungnya sendiri rumah mewah dengan konstruksi bangun ala perkotaan bukan hal jamak lagi.

Dengan berbagi macam profesi bisnis yang mereka geluti mulai dari penjual souvenir khas bali, penjahit, dan menyewakan motor/mobil dll pundi-pundi uang bisa mereka raih. Memang pangsa pasar yang mereka bidik adalah ‘bule’ yang berkunjung ke Bali. Tapi, rata-rata mereka secara background pendidikan biasa-biasa saja, artinya bukan lulusan bisnis di sebuah universitas, bahkan ada juga yang SD saja tidak tamat. Dan daya untuk tidak mau menjadi pekerja yang selalu disetir orang adalah hal yang patut saya apresiasi dari mereka. Lebih baik menjadi bos di rumah sendiri, dari pada menjadi bos di rumah orang. Filosofi yang dikatakan salah satu teman saya ini terus mengiang-ngiang dipikiran.

***

Dunia berputar. Jaman pun terus berubah dan berkembang. Setiap masa punya generasi. Setiap generasi punya pemahaman dan pengetahuan sendiri. Setiap orang memiliki kreativitas dan inovasi dalam menjalankan bisnis.

Ungkapan tersebut merupakan wahana perenungan dan sumber aplikasi untuk terus mengembangkan bisnis sesuai dengan keinginan generasi disetiap jaman yang terus berkembang. Dulu sarana promosi dari mulut ke mulut, kini dengan berkembangnya media internet. apa salahnya media ini adalah sarana promosi yang bisa diandalkan.

Asalkan mau tanggap terhadap tantangan perubahan dan perkembangan jaman, bisnis yang telah anda miliki serasa fresh untuk diminati konsumen. Dan bisa menjawab tantangan jaman yang semakin kompleks dan berjubel kompetitor-kompetitornya. Maka, jangan takut menjadi pebisnis yang mandiri.

Bisnis Oh Bisnis…  



Sabtu, 03 Mei 2014

Santri Sukses Pemilik Bus Dedy Jaya

Waktu saya belajar di pesantren daerah Cirebon, tepatnya di Desa Babakan Ciwaringin, saya banyak bergaul dengan santri-santri lintas pesantren di Cirebon, hal ini berkat pergaulan luas saya dengan putra-putra kiai pesantren di Cirebon, yang ternyata adalah akses memperluas jangkauan intensitas pergaulan saya tidak hanya kalangan lintas santri yang mondok saja, tapi juga dengan lingkungan keluarga ‘dalam’ kiai-kiai pemilik pesantren-pesantren di Cirebon.

Secara historis dan geneologi kekeluargaan dan keilmuan, satu pesantren dengan pesantren di Cirebon hakekatnya memiliki hubungan famili dan keilmuan dalam bentuk kekeluargaan dan guru-murid. Tak jarang anak pemiliki pesantren tersebut melakukan pernikahan silang antara putra-putri mereka. Atau bagi murid yang pandai akan dinikahkan dengan anak sang kiai. Akhirnya mau tak mau mereka harus mengembangkan pesantren layaknya sang ayah atau mertua, atau sang guru. Sehingga, pesantren di Cirebon ada dalam satu jaringan kekeluargaan atau guru murid yang padu.

Hal inilah keuntungan saya selaku santri bukan dari keluarga kiai atau pemilik pesantren yang bisa masuk rumah ‘dalam’; yang sementara ini tabu memasukinya jika tidak ada akses dan ijin dari sang kiai atau keluarga di dalam rumah itu. Interaksi ini sedikit banyaknya memberikan pengalaman berarti terhadap kondisi pesantren di Cirebon.

Pernah suatu waktu saya bersama anak kiai pesantren buntet ‘sowan’ ke rumahnya di kompleks pesantren Buntet, Cirebon. Saya pun diajak olehnya keliling bertamu ke salah satu pamannya. Tepatnya di rumah sederhana pamannya yang seorang kiai itu, setelah beliau memberikan wejangan hidup dan nilai-nilai normatif ajaran islam. Sekonyong-konyongnya beliau mengisahkan salah seorang santri di Cirebon yang sukses menjadi pebisnis, tepatnya santri itu adalah santri di tempat saya mesantren, yaitu pesantren Babakan Ciwaringin. Seketika saya terkejut, mendengar bahwa pebisnis itu satu almamater.

***

Walaupun ia hanya lulusan MTS, tapi pendidikan formal ini bukan kendala ia menjadi seorang pemilik bus Dedy Jaya. Ia selalu menginspirasi santri-santri lainnya untuk menjadi seorang pebisnis yang mandiri.

Artinya, seorang santri seharusnya tidak hanya berkutat pada keilmuan teoritis normatif islam saja, tapi harus mengaplikasikannya dalam hidup, utamanya dalam soal berbisnis. Sehingga, bisnis tidak hanya menjadi hak monopoli kalangan orang-orang luar pesantren, tapi santri harus menjadi pemain bisnis yang handal dan sukses. Agar, bisnisnya bisa menghidupinya, keluarganya, santrinya dan masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Cetus beliau: “akhirat dan dunia seharusnya digenggam oleh jenengan-jenengan selaku santri, dan islam telah mengajarkannya secara menyeluru dan lengkap.”

***

Ya, santri itu bernama Muhadi. Berkat kerja keras dan pantang menyerah ia menjadi pebisnis jasa bus Dedy Jaya yang patut diacungi jempol. Muhadi yang lahir tahun 1961 di Brebes, Jawa Tengah ini, telah malang melintang menjajaki berbagai macam bisnis dan pekerjaan mulai dari berdagang es lilin, kondektur bus dan berjualan minyak tanah.

Namun, nasib berbicara lain. Dengan doa, kerja keras dan pantang menyerah selama sekitar 18 tahun lebih, ia akhirnya menjadi konglomerat dengan dibuktikannya berbagai macam bisnis yang telah ia miliki dan jalankan mulai dari hotel, toko bahan bangunan, pabrik cat, toko emas dan mal di sekitar Brebes, Tegal dan Pemalang hingga bisnis bus.  Semuanya di bawah naungan kerajaan bisnisnya bernama: PT Dedy Jaya Lambang Perkasa. Dengan total karyawan berjumlah 2.500 karyawan.

***

Cikal bakal kesuksesan ekspansi bisnisnya awalnya berangkat dari bisnis bambu. Modal yang ia gunakan untuk memulai bisnis ini sekitar Rp. 50.000,-. Jerih payah berbisnis bambu ini ternyata memberikan keuntungan yang lumayan. Berduyun-duyun orderan berdatangan. Upamanya, pernah sebuah kontaktor bangunan order ribuan batang bambu. Mulailah keuntungan berangsur-angsur meningkat dari Rp. 70.000 sebulan jadi Rp. 470.000.

***

Setelah dua tahun berbisnis bambu, dengan modal dari keuntungan berbisnis bambu dan pinjaman dari bank, ekspansi bisnisnya berlanjut dengan mendirikan bisnis bahan bangunan. Yang pengetahuan tentang dunia bahan bangunan ia peroleh dari interaksi dengan kontaktor yang sering order bisnis bambunya.

***

Ternyata bisnis bahan bangunan ini adalah keran meningkatkan keuntungan yang terus mengalir. Tujuh tahun berbisnis bahan bangunan, bisnis Muhadi pun merambah ke jasa transportasi bus. Keuntungan dari berbisnis bahan bangunan ia jadikan modal untuk membeli beberapa bus besar.

Pastinya untuk penumpang trayek tujuan Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, Jakarta-Pemalang-Pekalongan, PO Dedy Jasa – brand yang ia namai dari anak pertamanya Dedion Supriyono – yang telah berjumlah ratusan unit tersebut bukan asing lagi. Itulah bisnis bus yang hingga saat ini digeluti oleh Muhadi, dan berkat tangan dinginnya bisnis bus ini terus berkembang.

Tak hanya mau finish di level bisnis ini saja. Muhadi terus melebarkan ekspansi sayap binisnya hingga ke bisnis emas, perkayuan, mal, hotel, pom bensin.

***

Biografi singkat Muhadi yang notabennya adalah seorang santri ini semoga melecut kalangan santri di Indonesia untuk mau mengikuti jejaknya. Dan kita tidak lagi hanya menjadi penonton, tapi pelaku.