Tampilkan postingan dengan label Biografi Pebisnis Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Pebisnis Sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Juli 2014

Konsep Cemerlang Motor X-Tra Bisnis Jasa Bengkel Motor Hj. Rubiyah Sardjono



Siapa bilang wanita identik dengan urusan rumah tangga? Pertanyaan ini layak kita gugat. Apalagi berkaca pada kehidupan modern saat ini, dimana suara-suara keras menggemakan emansipasi wanita menjadi alasan posisi wanita seharusnya memiliki kesamaan proporsional dengan pria. Asalkan tidak menyalahi kodrat, ‘emansipasi wanita perlu kita dukung’. 

Dan Hj. Rubiyah Sardjono, lahir pada tanggal 1 Desember 1959, merupakan referensi ‘emansipasi wanita’ yang telah teruji hasilnya. Yang perlu kita acungi jempol adalah ia mampu menggerakkan bisnis bengkel motor yang ia akselerasikan dalam bentuk franchise dengan payung brand bisnis bernama “Motor X-Tra”, hingga saat ini telah berkembang dengan beberapa outlet bengkel yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. 

Mencapai posisi ini bukan perkara mudah, selain mempunyai kewajiban mengurusi harmonisasi kehidupan rumah tangga dengan sang suami dan empat anaknya. Pelan tapi pasti, bisnis bengkel yang ia rintis dari nol, telah bisa dipetik hasilnya. Yang tentunya buah hasil kerja kerasnya akan kembali juga untuk kehidupan keluarga dan masyarakat.

Lika-Liku Perjalanan Bisnis

Sebelum terjun merintis bisnis bengkel motor, awalnya di tahun 1984, tepatnya di kota Surabaya, ia pernah merintis bisnis salon dan jasa rias pengantin yang ia jalani selam 5 tahun. Pernah juga ia merintis bisnis katering selama 3 tahun di Jakarta. Tapi, bisnis katering pun harus ia lepaskan ke orang lain, padahal bisnis kateringnya telah mampu memberikan keuntungan. Tapi karena mengikuti suami, H. Sardjono, yang berlatarbelakang seorang teknisi mesin di perusahaan swasta. Ia harus ikut pindah kembali ke Surabaya mengikuti tugas suami. Selama tinggal di Surabaya, kegemarannya berbisnis tidak surut, justeru ia terus mencari peluang bisnis lain yang dirasa bisa ia kelola tanpa harus stand by di tempat, tapi menghasilkan. Akhirnya ide merintis bisnis bengkel motor muncul, karena dari hasil risetnya bahwa berbisnis bengkel motor tidak menuntut pemiliknya harus terus berada di tempat usaha, dan bisnis bengkel pun cukup berprospek. Setelah diskusi dengan suami, ide bisnis bengkel motornya mendapat sambutan positif dan sang suami mendukungnya. 

AHASS Berdiri

Tahun 1993 di Surabaya, bisnis bengkel motor yang ia beri nama U.D Waru Agung Motor Group berdiri. Yang dari waktu ke waktu bisnisnya mendapat sambutan positif dari konsumen. Perkembangan bisnisnya mengalami grafik melonjak; pasar menerimanya, hingga berekspansi ke bisnis bengkel AHASS. 

Perjalanannya mendapat izin dari Astra Honda Motor mendirikan bengkel AHASS ini bukan perkara gampang; semudah membalik telapak tangan. Ia harus extra keras meyakinkan pihak menajemen Astra Honda Motor. Pada tahun 1999 momen buah kerja keras dan kesabarannya akhirnya terkabul. Bengkel AHASS yang ia idam-idamkan memperoleh izin dari pihak Astra Honda Motor, tapi rintangan malah semakin menghadang. Pihak Astra Honda Motor menempatkan bisnis bengkelnya di lokasi yang tidak strategis, ditambah permasalah modal besar yang harus ia gelontorkan untuk membangun bisnis bengkel AHASS ini. Tapi, berkat keuletan dan kerja kerasnya, sebagaimana pertama kali meyakinkan pihak Astra Honda Motor, bahwa bengkel yang ia bangun pasti akan ramai dan berbeda dari lainnya mampu ia realisasikan. Bisnis bengkelnya ramai konsumen, dari awalnya satu bengkel, terus berekspansi menjadi dua, dan kemudian tiga bengkel. Prestasinya ini menjadi penyebab bengkelnya diganjar: “bengkel AHASS yang paling the best di wilayah bagian timur Indonesia dan merupakan sumber referensi standar pengembangan bengkel AHASS di wilayah bagian timur ini.” 

Motor X-Tra Berdiri

Keberhasilannya ini tidak lantas membuatnya puas, insting mengembangkan bisnis terus ia lakukan, hingga konsep “Motor X-Tra” yang merupakan bentuk dari servis bengkel yang memiliki format berlandaskan: one stop servis.
 
Letak keistimewaannya ‘one stop servis’ adalah kombinasi antara pelayanan jasa bengkel, mencuci motor, salon motor dan berbagi macam kebutuhan yang berhubungan dengan motor. Sehingga, setiap konsumen datang dan menggunakan jasa bengkelnya keperluan motor konsumen akan tuntas diservis dengan baik. 

Setahun setelah konsep ide cemerlangnya ini dijalankan, bisnis bengkel motornya tancap gas berekspansi hingga menjangkau 6 cabang dengan omset pendapat yang luar biasa besar. (diolah berbagai sumber bacaan).

Perjalanan suksesnya untuk lebih jelas bisa kita telaah di alamat web:
(http://www.majalahwk.com/artikel-artikel/info-usaha/200-edisi-majalah.html) 
(http://bisnisukm.com/profil-wanita-dibalik-kesuksesan-bengkel-motor-x-tra.html)

Kamis, 17 Juli 2014

Inspirasi Bisnis Bengkel Mobil Stanly Erungan



Omset per bulan 1 miliar merupakan bukti bahwa bisnis bengkel mobil Stanly Erungan telah menghasilkan buah kesuksesan. Sebelum bisa menggapai prestasi ini, terdapat rentang perjalanan hidup yang melibatkan pengalaman, persentuhan relasi bisnis dan totalitas pengetahuan dalam bidang bisnisnya. Background pendidikan Stanly yang lulusan Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, dengan spesifikasi bidang informasi dan teknologi komputer. Setidaknya bisnisnya tak jauh dari hal-hal yang berbau komputer, tapi takdir berbicara lain. Ia malah sukses menjadi pebisnis bengkel mobil.

Pengalaman Kerja Stanly

Pengalaman karir kerja Stanly berawal dari perusahaan Astra, dimana di perusahaan Astra ini ia menduduki posisi penting dan strategis. Setelah lama bekerja dan cukup pengalaman di Astra, tahun 2001 ia keluar. Karena hasratnya ingin membangun bisnis sendiri. Setelah keluar dari Astra, Stanly tidak segera membangun bisnis sendiri, malah berlabuh terlebih dahulu di perusahaan oli. Bergabungnya di perusahaan oli ini ternyata semakin membuka pikiran, pengalaman dan relasinya. Perusahaan tempatnya bekerja ini merupakan langganan pemasok oli pengusaha bus, truk dan berbagai kendaraan lainnya. Melalui interaksi dengan pengusaha-pengusahan itu relasi bisnisnya bertambah banyak dan kuat untuk memantapkannya membangun bisnis bengkel mobil.

PT Mitra Jaya Agung Motor Berdiri

Akhirnya, cita-cita yang ia idam-idamkan bahwa sebelum berumur 40 tahun memiliki bisnis sendiri terkabul sudah. Tepatnya tahun 2008, PT Mitra Jaya Agung Motor yang terletak di wilayah Cikokol, Tangerang, berdiri tegak. Melalui merek yang ia patenkan, “Mitra Service Car (MSC)”.

Membuka Waralaba

Sebelum mantab fokus di bisnis bengkel mobil, sebenarnya Stanly telah merintis bisnis bengkel motor yang berdiri pada tahun 2007, yang kemudian ia jual pada tahun 2009 untuk lebih fokus mengelola bisnis bengkel mobilnya.

Bisnis jasa bengkel mobil dengan merek yang ia miliki sendiri, bernama AQ Genuine. Aneka onderdil khusus melayani truk dan bus tersedia di bengkelnya. Sehingga, jelas keuntungan ganda bisa ia petik dari bisnis bengkel mobil ini, yaitu berupa perawatan onderdil dan juga penggantian onderdil serta tersedianya onderdil impor dari Eropa.

Berkat kerja kerasnya, bisnis bengkel mobil yang ia kelola, tahun 2012, telah mampu memilki 6 gerai, lima diantaranya adalah waralaba.









Selasa, 15 Juli 2014

Ringkasan Biografi Ciputra


Sosok Ciputra di Indonesia sudah sangat familiar, terutama untuk kalangan yang bekecimpung dalam dunia bisnis properti. Julukan sebagai raja properti tersemat sepenuhnya di pundaknya. Karena pengalaman dan kiprahnya ini, biografi hidup dan perjalanan bisnisnya selalu menjadi inspirasi yang tak henti-hentinya diulas di media cetak maupun elektronik. Tentunya selain kegetolannya menyuarakan pentingnya masyarakat Indonesia berjiwa dan bermental Entrepreneur mandiri, yang ia implementasikan dengan mendirikan Universitas Ciputra yang memfokuskan kurikulum pendidikannya pada ranah entrepreneur dan berbagai macam event pelatihan bisnis. 

Ya, ingat nama Ciputra sama halnya ingat sosok pebisnis yang sukses dan handal. Keberhasilannya di dunia bisnis, khususnya di dunia properti tidak ia bangun dengan segejap mata, tapi melalui berbagai macam proses panjang dan berliku. 

Masa-masa tinggal di kampung halaman ia lalui dengan kesulitan dan penderitaan hidup. Ciputra yang lahir pada tanggal 24 Agustus 1931 di Parigi, Sulawesi Tengah, dengan nama asli Tjie Tjin Hoan. Pada tahun 1944, di umur 12 tahun, Ayah yang ia cintai, Tjie Sim Poe, dalam penyaksian ke dua matanya ditangkap oleh serdadu yang identitasnya tak dikenal sama sekali, disebabkan tuduhan palsu sebagai spionase Belanda. Karena sang ayah memang di masa pendudukan penjajah Dai Nippon sangat anti-penjajah, yang memunculkan gelora untuk mengkonfrontir setiap aksi penjajahan Dai Nippon (Jepang). Pasca penangkapan keji ini, ayah yang merupakan tulang punggung keluarga hilang tanpa kabar berita lagi. 

Kehilangan sosok Ayah, melecut semangat dan ambisinya dalam meraih cita-cita, sifat seenaknya sendiri dan bandel yang sering ia perbuat di SD berangsur-angsur ia tinggalkan. Dan juga ditunjang berkat ketegaran dan dorongan sang ibu, Lie Eng Nio, Ciputra yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, dapat berhasil menamatkan jenjang pendidikan SMP dan SMA di Manado, yang sama-sama ia selesaikan di lembaga pendidikan yang bernama Frater Don Bosco. Kemudian, keinginannya menjadi seorang Arsitektur, menyebabkan ia harus hijrah meninggalkan kampung halaman menuju Bandung, Jawa Barat, kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama kuliah di ITB, jiwa bisnisnya sudah terlihat, dibuktikan dengan mendirikan PT Daya Cipta di tahun 1957 bersama ke dua teman kuliahnya, yaitu Ismail Sofyan dan Budi Brasali. Hasil proyek pekerjaan di perusahaan ini adalah penyelesaian proyek gedung Bank bertingkat di Aceh. Prestasi ini akan selalu diingat Ciputra, mengingat proyek ini terbilang lumayan besar pada waktu itu, walaupun kantor tempat perusahaan ia dirikan bersama ke dua temannya adalah sebuah garasi. Tapi, hal itu bukan merupakan kendala ia berprestasi dan berkreasi. 

Tahun 1960, setelah tamat dari ITB, dan telah menikah dengan Dian Sumeler yang ia kenal di SMA sewaktu di Manado. Ia ayunkan kaki pergi ke Jakarta, bergabung dengan perusahaan milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta bernama PT Pembangunan Jaya Group. Di perusahaan ini ia ditampuk menduduki jabatan Direksi hingga umur 65 tahun, berlanjut menduduki dewan penasehat. Selama menahkodai Jaya Group prestasi yang telah ia torehkan adalah proyek pembangunan Ancol. Awalnya PT Pembangunan Jaya Group hanya dimotori 5 orang dan tempat ‘ngantor’ mereka sehari-hari ‘numpang’ di kamar tempat kerja Pemerintah DKI Jakarta, namun kini perusahaan ini, setelah 20 tahun, anak perusahaannya berjumlah 20, total karyawan berjumlah 14.000 orang. 

Tidak hanya berhenti di zona ini saja, bersama kroni-kroninya, yaitu Liem Soe Liong (Sudomo Salim), Budi Brasali, Ibrahim Risjad dan Sudwikatmono, perusahaan yang bernama Metropolitan Group ia dirikan, dimana jabatannya adalah Presiden Komisaris. Bukti prestasi Metropolitan Group adalah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, yang ke duanya hingga saat ini bisa kita saksikan buktinya. Lalu, bisnisnya merambah kembali dengan didirikannya Perusahaan Ciputra Group. 

Krisis ekonomi menerjang Indonesia di tahun 1997 dan 1998, berdampak pada bisnis Ciputra, perusahaan yang selama ini ia jalankan, yaitu Pembangunan Jaya Group, Metropolitan Group dan Ciputra Group harus ikut kelimpungan terkena imbas krisis ekonomi. Parahnya Bank Ciputra dan Asuransi Jiwa Ciputra Allstate dinyatakan oleh pemerintah tidak sehat dan wajib tutup. Namun, ke tiga unit perusahaan bisnis lainnya dapat bangkit lagi dan melakukan restrukturisasi utang, berkat kebijakan moneter pemerintah yang lunak dan kebijakan bank yang beberapa diantaranya memberikan diskon bunga. Pasca krisis ekonomi ini, group bisnis perusahaan Ciputra lambat tapi pasti, dapat menanjak kembali hingga melelebarkan sayap tidak hanya di dalam negeri, tapi juga hingga luar negeri. 

***

Prestasi Ciputra dalam membangun bangsa melalui kontribusinya menganjurkan rakyat Indonesia menjadi pebisnis adalah upaya nyata, bahwa seorang pebisnis merupakan jawaban riil memajukan dan meningkatkan harkat dan martabat rakyat bangsa Indonesia  dihadapan rakyat bangsa-bangsa lainnya.  

Semoga menginspirasi kita semua…  

Sabtu, 14 Juni 2014

Biografi Singkat Adhi Tirtawisata Dalam Dunia Bisnis Kepariwisataan di Indonesia


Ia lahir dari keluarga Tionghoa di masa penjajahan Belanda, pada tanggal 12 Oktober 1932, dengan nama asli Thung Tjiang Kwee, kemudian namanya berubah menjadi Adhi Tirtawisata karena kebijakan pemerintahan Suharto pada waktu itu, bahwa seluruh warga keturunan Tionghoa harus merubah nama Tionghoanya, agar identitas sebagai orang Indonesia terlihat.

Latar-belakang kehidupan keluarganya, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga perkebunan. Tapi, keluarganya selalu memberikan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup, dari sinilah menempanya menjadi sosok yang senang belajar hal apapun. Di masa-masa kecil, bakat menjadi seorang pebisnis sudah menonjol, upamanya apabila musim layang-layang tiba, ia selalu membuat layang-layang, lalu dijual ke teman-temannya. Keuntungan jualan layang-layang memberikan uang tambahan, selain tentunya uang saku yang ia peroleh dari ke dua orang tuanya.

Dalam hal berorganisasi ekstra sekolah, di umur 7 tahun, ia sudah kepicut bergabung dengan organisasi Pramuka. Ia mendapatkan banyak pelajaran hidup dalam organisasi ini, dimana kelak nilai-nilai kepanduan Pramuka tersebut akan terus mewarnai karirnya dalam mengembangkan bisnis.

Setelah menamatkan sekolah, keinginannya menjadi seorang pengacara, menyebakan ia kuliah mengambil jurusan hukum di Jakarta, tapi melihat dan merasakan dunia pengacara yang penuh intrik, akhirnya hati nuraninya menolak. Ditinggalkanlah kehidupan sebagai pengacara sebagaimana yang ia cita-citakan, banting setir menggeluti bisnis. 

Di masa kuliah, ia sempat juga mengajar di SD, setelah sempat menumpang tinggal di rumah temannya, yang notabennya adalah guru kepala sekolah tempat ia mengajar. Selama mengajar di SD, prinsip-prinsip kepanduan dalam Pramuka, yaitu rajin, jujur, setia dan ingat kepada Tuhan ia tanamkan pada murid-muridnya, bahkan dalam menjalankan bisnisnya pun prinsip ini selalu menjadi panduan yang ia terapkan di perusahaan. Baginya, ke empat prinsip tersebut tidak hanya batas pemahaman saja, tapi harus dipraktekkan dalam hidup. Maka, realisasi penerapan prinsip tersebut harus dimulai dari diri pribadi dalam bentuk suri tauladan; contoh diri. Akumulasi awal penerapan ke empat prinsip ini berupa konsistensinya berangkat kerja tepat waktu dan pulang pun demikian. 

Selama mengajar di SD ada pengalaman tanpa diduga sebelumnya yang menggugah insting bisnisnya, yakni ketika tanpa disengaja, di tempat pangkalan becak biasa nongkrong sekitar sekolah tempat biasa ia mengajar, salah seorang pemilik becak menawarinya becak untuk dibeli. Alasannya, pemilik becak sedang membutuhkan uang. Mendengar tawaran langka ini, segera jiwa bisnisnya membuncah. Tanpa pikir panjang ke empat becak yang sebelumnya telah ditawarkan kepadanya ia beli. 

Selain mengajar dan memiliki bisnis menyewakan becak, ia menjalankan bisnis ayam kate yang ia pelihara sendiri, berawal dari sepasang sampai berjumlah belasan. Kemudian, ayam-ayam kate itu ia jual di Pasar Pramuka.

Namun, dari sekian profesi hidup dan beberapa bisnis yang ia jalankan, ada satu profesi pekerjaan yang kelak akan menjadikannya ikon bisnis pariwisata di Indonesia. Yakni, satu tahun masa akhir kuliahnya di jurusan hukum, ia bekerja di perusahaan agent perjalanan wisata IASA tour & travel sebagai penjual tiket pesawat. Profesi ini merupakan Babak baru perkenalannya dalam dunia kepariwisataan. 

Tahun 1962, ia menjadi pengacara sebagaimana jurusan kuliahnya di bidang hukum. Karena kondisi pada tahun itu, sang bos tempat ia bekerja secara kebetulan adalah seorang pengacara. Bosnya memintanya mengurusi kasus di pengadilan. Namun, hanya 2 tahun saja profesi pengacara ia jalani. 

Tahun 1965, total ia tinggalkan dunia pengacara, lalu memfokuskan diri menekuni bisnis kepariwisataan dengan mendirikan travel yang ia beri nama Djaja Travel, namun bisnisnya tidak berjalan lama. Tutup. Memaksanya kembali bekerja di PT Asia Express; perusahaan perjalanan wisata. 

Selama bekerja dan bergulat dalam dunia perjalanan wisata, ia mendapat julukan unik, yaitu “Adhi With The Yellow Ticket”. Asal-usul julukan tersebut dikarenakan intensitas mobilitasnya selalu menggenggam tiket Lufthansa berwarna kuning; tiket yang berasal dari maskapai penerbangan Jerman. 

Ketika menjual tiket, ia mampu memberikan profit yang besar pada Lufthansa dengan hasil penjualan tiket dengan jumlah yang sangat banyak, menyebabkan ia bisa memperoleh tiket keliling dunia. Yang sebelumnya melalui pengajuannya kepada sang manager. 

Tahun 1967, CV Batemuri berdiri. Perusahaan yang baru ini masih berkecimpung dalam bisnis biro perjalanan wisata, tidak hanya bergerak dalam penjualan tiket, tapi juga memfasilitasi kegiatan tour. Produk jasa tour yang ia bidik pertama kali hanya menjangkau wilayah Jakarta saja, dengan tour keliling kota Jakarta, yang ia namai City Tour. Di fase inilah, bisnisnya berkembang pesat, menyebabkan teman sejewatnya banyak meminta bergabung. Akhirnya, tahun 1971, perusahaannya yang awalnya CV, berubah status menjadi PT.

Setahun kemudian, ia mendirikan perusahaan kembali, yang ia beri nama PT Regina Alta Tours. Perusahaan yang baru ini bergerak dalam bidang yang sama, yakni menjual tiket dan kegiatan tour keliling Jakarta.

Namun, double jabatan kepemilikan dalam suatu perusahaan, membuatnya tidak bisa sepenuhnya fokus mengembangkan bisnis biro perjalanan yang ia dirikan, akhirnya pada tahun 1974, jabatan sebagai direktur PT Batemuri Tours ia tinggalkan. 

Tahun 1975, PT Regina Alta Tours olehnya disisipkan penambahan nama Panorama, sehingga menjadi PT Regina Alta Panorama Tours. Lalu, tahun 1995 nama perusahaanya berubah kembali dengan menghapus sisipan nama: Regina dan Alta, berubah menjadi PT Panorama Tours. 

Penggunaan nama PT Panorama Tours, semakin membuat laju bisnisnya berkembang, ditandai dengan paket produk wisata tour baru, bernama Jakarta Stopover: paket tour pulang-pergi dengan berbagai macam fasilitas berupa perjalanan airport ke hotel, akomodasi, paket city tour selama sehari-semalam.

Tidak hanya puas dititik ini saja, bisnis perjalanan wisatanya menjalin kontrak kerjasama dengan pihak Singapore dan Malaysia Airlines. Di titik ini perusahaannya  menjadi ikon perintis di Indonesia yang menorehkan sejarah sebagai perusahaan perjalanan wisata yang pernah membangun hubungan kerjasama dengan maskapai penerbangan Internasional. Berlanjut, di tahun 1979 hingga 1986, melalui program bernama Emerald Holidays, ia bangun kerjasama dengan pihak maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Adapun Program Emerald Holidays adalah pelopor kegiatan inbound tourism dengan 16 paket wisata berbagi kota di Indonesia. Dan produk bisnisnya berkembang pula pada tersedianya paket Bali & Beyond.

Dalam menelorkan program paket produk wisata baru, ia tak sungkan terjun langsung, survey terlebih dahulu. Sehingga, praktek ini menjadikan paket-paket produk wisatanya cepat berkembang dan sangat dinikmati konsumen. Karena, banyak tujuan objek wisata baru yang ia miliki, yang selama ini masih kurang diberdayakan dan dikembangkan.

***
Buah kerja kerasnya dalam bisnis tour & travel menempatkan Adhi Tirtawisata ke jajaran pebisnis yang sukses. Sehingga, ekspansi bisnisnya membentuk jaringan bisnis berjalin-kelindan dalam satu payung bernama: Panorama Group, meliputi tiga bidang jaringan bisnis, yaitu pariwisata, transportasi dan hospitality. 

Capaian puncak ini menghantarkannya memperoleh berbagai penghargaan baik itu tingkat nasional maupun internasional, dan yang patut saya apresiasi dan acungi jempol ialah penghargaan dari Kementerian Pariwisata Isarel yang diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata Israel, Uzi Landau, kepada Adhi Tirtawisata selaku pemilik PT Panorama Group pada tanggal 25 Desember 2013, terhadap peranannya mendatangkan turis dari Indonesia ke Israel. Padahal, pemerintah Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, bagi saya bukan persoalan, malah upaya ini harus dilanjutkan dan dijalin dengan erat terutama dalam ranah bidang kepariwisataan.

Tulisan sederhana ini semoga melecut semangat saya dan kita semuanya...

Kamis, 08 Mei 2014

Sepak Terjang Netty Monalita Membangun Kursus Menjahit


Daerah Rawamangun, Jakarta Timur, tepatnya di Pasar Sunan Giri,  aneka pemandangan toko-toko menjual kebutuhan bahan-bahan untuk menjahit terlihat mudah kita temukan. Mamang di pasar inilah tempat rujukan kalangan penjahit membeli bahan-bahan jahitan. Namun, yang menjadi sentral daya tariknya adalah sebuah kursusan jahit yang sudah terkenal dan menelorkan banyak murid. Ya, di tempat inilah terdapat lembaga kursus jahit Monalita, yakni lembaga kursus yang didirikan oleh Hj. Netty Monalita.

Sosok Hj. Netty memang unik untuk dituliskan, karena selain sebagai seorang penjahit dengan hasil jahitan yang ‘the best’, ia adalah seorang guru jahit, yang saya bisa menyebutnya sukses. Karena dari hasil didikan dilembaga kursus yang ia dirikan, skill menjahit terutama kalangan wanita di Indonesia bisa menjadi sumber lain penompang hidup kehidupan rumah tangga, selain dari suami. Sehingga, wanita-wanita itu tidak perlu lagi menengadahkan tangan pada suami, menjadi seorang wanita mandiri dan kuat dalam meraih  rupiah, yang ia alokasikan demi pendidikan sang anak dan kebutuhan hidup sehari-hari. Fakta ini saya peroleh dari bibi, saudara ibunya teman saya. Saya memanggilnya bibi, karena keluarga teman saya itu sudah seperti saudara saya sendiri. Dari bibi ini saya sekilas memperoleh informasi kursusan jahit Monalita, karena menurut pengakuannya, ia pernah belajar menjahit di kursusan Monalita. Sehingga, bekal ilmu kursus menjahit itu, ia praktekan membuka bisnis melayani jahitan.  Dan hasilnya lumayan, setidaknya bisa membantu suami menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

***

Wanita pemilik lembaga kursus Monalita ini lahir di Pekanbaru pada tanggal 4 Maret 1956 dengan nama lengkap Netty Monalita, dengan suami bernama H. Aldric, suami yang selama ini terus mendukung dan ikut membesarkan lembaga kurusan Monalita. 

Awal Netty terjun ke bisnis kursusan menjahit bukan cita-cita yang ia idamkan. Baginya, skill menjahit yang ia miliki merupakan modal membangun bisnis jasa jahitan yang selama ini telah ia pelajari dan latih dari semenjak kecil. 

Bakat dan keinginan menjahitnya sudah terlihat di usia 3 tahun, dengan kebiasaaanya menggunting kain-kain yang ada di rumah, yaitu taplak, gorden dan seprei. Menginjak kelas 5 SD, Netty sudah mampu membuat pakaian untuk adiknya dengan mesin jahit, yang pola model jahitannya ia peroleh dari pakaian sang adik yang terlebih dahulu ia preteli benang-benang yang mengikat pakaian tersebut. Ia jiplak model pakaian sang adik tersebut untuk membuat pakaian baru hasil jahitan tangannya. Setelah lulus SD, ia makin suka membuat baju khusus untuk dirinya pribadi. Kemudian, asupan skill menjahitnya pun meningkat seiring tekadnya belajar menjahit dengan bergabung di berbagai lembaga kursus. 

Baru di usia 18 tahun, Netty mulai menerima orderan jasa menjahit. Ny. Nur Laela adalah konsumen pertamanya yang tinggal di depan rumahnya. Ternyata, Ny. Nur Laela makin keranjingan menjahitkan pakaiannya di tempat Netty. Lambat laun dari mulut ke mulut kualitas hasil jahitan Netty tersebar hingga memberikan pelanggan-pelanggan tertentu. Semakin bertambahnya pelanggan yang berdatangan,  akhirnya di usia 20 tahun ia memantabkan diri menseriusi bisnis menjahit. 

Tapi, takdir berbicara lain melalui keinginan Nur yang merupakan pelanggan pertamanya. Kepada Netty ia ungkapkan keinginan belajar menjahitnya. Namun, keinginan untuk belajar kepada Netty harus bertepuk sebelah tangan, memperoleh jawaban penolakan. Nur pun tidak lantas menyerah. Dengan desakan terus-menerus, akhirnya keinginan belajar menjahit ke Netty memperoleh lampu hijau dengan syarat Nur harus rutin belajar. 

Di tempat kontakan rumah petak di dalam gang, Netty menggembleng Nur belajar menjahit yang dilangsungkan selama tiga kali seminggu dengan fasilitas belajar amat sederhana. Namun, berkat kesabaran dan ketelatenan Netty dalam mendidiknya, bergulirnya waktu, orang-orang yang minta belajar malah semakin berdatangan. Sehingga, Netty mulai dikenal sebagai seorang guru menjahit. Akhirnya, peristiwa itu membuka pikirannya untuk membuat kursusan menjahit yang ia beri nama: Monalita.

Kualitas hasil belajar di Monalita tak perlu diragukan lagi. Hasil didikan di lembaga ini telah memiliki alumni yang sukes membangun bisnis jahitan. Bahkan, murid-murid Netty sampai ada yang membuka butik di Kalimantan, Bali dan Papua.

Ganjaran penghargaan di tahun 2005, sebagai lembaga kursus menjahit terbaik dan juara I se-DKI jakarta. Inilah bukti kesuksesan kualitas Monalita dalam dunia kursusan menjahit.

***

Didikan dan peran Hj. Netty dalam mencerdaskan dan membangun perekonomian bangsa Indonesia yang lebih mandiri, tanpa lagi tergantung pada asing patut kita apresiasi dan contoh. Seharusnya sektor-sektor bisnis yang pro rakyat harus pemerintah perhatikan. Bukan lagi pro pada asing yang nyata-nyata kekayaan kita diangkut oleh mereka semua.



Rabu, 07 Mei 2014

Rusdi Kirana: Sang Bos Lion Air


Berbicara maskapai penerbangan di Indonesia, pastinya masyarakat telah mengenal Lion Air. Perusahaan penerbangan komersial dengan logo Singa ini adalah salah satu maskapai penerbangan yang murah dan terjangkau kalangan masyarakat menengah. Eksistensi Lion adalah fenomena tersendiri dalam dunia penerbangan komersil. Di tengah kondisi Indonesia masih kurang stabil di tahun 2000, dua tahun pasca runtuhnya rezim Suharto, Lion Air malah muncul dengan kepercayaan tinggi.   

Segudang prediksi negatif berseliweran menghantui maskapai baru ini. Alasannya, karena selain kurang stabilnya kondisi perekonomian Indonesia dan berbisnis maskapai penerbangan akan sangat berbeda dengan berbisnis biro perjalanan wisata yang selama ini ditekuni sang pendiri Lion Air. Namun, hal itu tidak menggemingkan Lion Air untuk terus melangkah maju menjadi maskapai penerbangan yang diminati masyarakat.

*** 

Rusdi Kirana lahir pada tanggal 17 Agustus 1963, sosok kalem dan bersahaja ini bersama sang kakak, Kusnan Kirana, berduet menukangi Lion Air. Secara background kehidupan keluarga, keduanya telah tertanam jiwa bisnis semenjak kecil dari ke dua orang tuanya yang seorang pedagang. Pengaruh didikan keras orang tuanya menjadikan mereka tahan banting dan pantang menyerah dalam menjalankan suatu bisnis. Pantas bila Lion Air bisa sebesar seperti sekarang ini.

Awal sejarah berdirinya Lion Air dimulai pada tahun 2000 dengan modal satu pesawat zet, setelah mereka sukses selama 13 tahun menjalankan bisnis biro perjalanan wisata yang mereka namai Lion Tours. Pengalaman biro perjalanan dalam bidang wisata ini modal utama mereka mantap membangun Lion Air. 

Dengan motto: “We Make People Fly” rute jadwal penerbangan Lion Air telah merambah seluruh wilayah Indonesia dan juga luar negeri yakni, Singapura, Kuala Lumpur, dan juga Ho Chi Min. Hal ini berkat kerja keras dan keseriusan mereka yang tidak mau cepat puas, dan juga pelayanan kenyamanan dan keamanan kepada penumpang terus mereka tingkatkan, sehingga penumpang puas walaupun harga tiket Lion Air murah dibandingkan maskapai lainnya. 

Lion Air merupakan pelopor awal maskapai di Indonesia yang menggunaan pesawat jenis Boeing 737-900ER dengan kuantitas yang cukup besar. Lalu pada tahun 2011, Lion melakukan pembelian 201 pesawat Boeing yang nilainya mencapai USD 22 miliar (Rp 214 triliun). Setelah pembelian Boeing pada bulan Maret 2013 berlanjut pembelian 234 pesawat Airbus jenis A320 (109 pesawat jenis A320neo, 65 A321neo, dan 60 A320ceo) yang ditandatangi oleh Rusdi Kirana dan CEO Airbus, Fabrice Bregier, di Paris dengan total dana yang dikeluarkan pihak Lion Air sebesar USD 24 miliar (Rp. 233 triliun).

Kesuksesan mereka berdua di dunia maskapai penerbangan komersil Indonesia. Menempatkan Rusdi dan Kusnan Kirana pada tahun 2012 terdaftar sebagai orang terkaya di Indonesia.

Menariknya di tahun pemilu 2014, Rusdi Kirana selaku Direktur Utama Lion Air mengundurkan diri untuk lebih fokus di dunia politik bergabung dengan PKB, dengan jabatan struktur organisasi sebagai wakil ketua umum PKB, di bawah langsung Muhaimin, walaupun sempat santer dijagokan sebagai capres konvensi Patai Demokrat.

Tapi, walaupun Rusdi keluar dari Lion Air tidak sepenuhnya ia meninggalkan dunia bisnis yang telah membesarkan nama dan memperbanyak kekayaannya. Rusdi masih Presiden Direktur Lion Group. Dengan sektor bisnis yang dibawahi Lion Group yaitu: Lion Air, Batik Air, Malindo Air, Wings Air, Thai Lion Air, dan juga Lion Hotel & Plaza serta surat kabar.



Selasa, 06 Mei 2014

Bisnis EO & WO Rina Gunawan



Pastinya kita pernah mendengar dan kenal nama Rina Gunawan? Wanita berjilbab ini awalnya terkenal sebagai seorang penyanyi. Kemudian aktivitasnya di jagad hiburan merambah ke dunia presenter acara talk show ‘campur-campur’ dan juga memerankan beberapa sinetron seperti Mat Angin, Pat Pat Gulipat dll. Ya, kepopulerannya sebagai artis ini tidak menghalanginya membangun bisnis jasa EO. Yang dari waktu ke waktu bisnis EO yang dijalani Rina berkembang pesat dengan client kalangan artis dan pejabat di Indonesia. 

Nah, sebenarnya siapa sosok Rina ini dan mengapa harus terjun menekuni dunia EO, sehingga dunia hiburan dan peran yang membesarkan namanya tersebut harus ia tinggalkan?

***

Membicarakan pebisnis EO di Indonesia, sosok Rina memang menyimpan daya tarik untuk menuliskannya. Meskipun masih banyak pebisnis EO di tanah ini yang lebih populer dan berpengalaman dibandingkan dengan bisnis EO Rina sendiri. Namun hal ini bukan persoalan saya, tapi karena saya lebih melihat dari capaian bisnis EO yang telah 10 tahun lebih ia jalankan bisa diterima di kalangan client, terutama kalangan artis dan pejabat di Indonesia. 

***

Nama lengkapnya adalah Rina Mustikana Gumilang Gunawan, dilahirkan di Bandung, pada tanggal 28 Juni 1974, bersuami Teddy Syah yang berprofesi sebagai aktor sinetron. Namun, suami Rina ini masih eksis di jagad dunia peran, sedangkan Rina harus fokus membesarkan bisnis EO-nya.

Awalnya Rina bergelut dalam bisnis EO karena permintaan Krisdayanti membantunya manage ulang tahun Aurel dan Azriel, ke dua putra dan putri Krisdayanti. Lalu, giliran Eko dan Viona menawarinya mengatur dan mengurusi pernikahannya. Selain alasan kegemaran dan kesenangannya berinteraksi dengan banyak orang, dan juga banyak rekan-rekan teman artisnya kesulitan dan kebingungan ketika hendak melangsungkan resepsi pernikahan, karena kesibukan syuting mereka dan kurangnya pengetahuan vendor pernikahan yang berkualitas. Dari pengalaman dan alasan inilah memantapkannya segera membangun bisnis EO.  

Akhirnya pada tahun 2000, Rina Gunawan Wedding & Event Organizer resmi berdiri. Yang target marketnya khusus pada jasa hiburan (showbiz entertainment) dan Event Organizer & Wedding Organizer serta melayani kids party.

Bukti prestasi Rina di bawah naungan perusahaan bisnisnya: Rina Gunawan Wedding & Event Organizer diantaranya: pernikahan Bunga Citra Lestari & Ashraff Sinclair, Eko Patrio, Nico Siahaan, Dina Lorenza, Marshanda, Fery Maryadi, Monica Oemardi, Ussy Sulistiawaty, dan birthday party Alissa Soebandono, penyanyi dangdut Kristina, bahkan menghandle launching produk Simas Margarin, Komatsua€ dll.

***

Itulah Rina Gunawan, kejeliannya dalam melihat peluang bisnis dalam pergaulan dengan teman-temannya di dunia hiburan Indonesia menempatkan Rina sebagai pebisnis EO yang patut menginspirasi kita.