Sabtu, 14 Juni 2014

Biografi Singkat Adhi Tirtawisata Dalam Dunia Bisnis Kepariwisataan di Indonesia


Ia lahir dari keluarga Tionghoa di masa penjajahan Belanda, pada tanggal 12 Oktober 1932, dengan nama asli Thung Tjiang Kwee, kemudian namanya berubah menjadi Adhi Tirtawisata karena kebijakan pemerintahan Suharto pada waktu itu, bahwa seluruh warga keturunan Tionghoa harus merubah nama Tionghoanya, agar identitas sebagai orang Indonesia terlihat.

Latar-belakang kehidupan keluarganya, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga perkebunan. Tapi, keluarganya selalu memberikan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup, dari sinilah menempanya menjadi sosok yang senang belajar hal apapun. Di masa-masa kecil, bakat menjadi seorang pebisnis sudah menonjol, upamanya apabila musim layang-layang tiba, ia selalu membuat layang-layang, lalu dijual ke teman-temannya. Keuntungan jualan layang-layang memberikan uang tambahan, selain tentunya uang saku yang ia peroleh dari ke dua orang tuanya.

Dalam hal berorganisasi ekstra sekolah, di umur 7 tahun, ia sudah kepicut bergabung dengan organisasi Pramuka. Ia mendapatkan banyak pelajaran hidup dalam organisasi ini, dimana kelak nilai-nilai kepanduan Pramuka tersebut akan terus mewarnai karirnya dalam mengembangkan bisnis.

Setelah menamatkan sekolah, keinginannya menjadi seorang pengacara, menyebakan ia kuliah mengambil jurusan hukum di Jakarta, tapi melihat dan merasakan dunia pengacara yang penuh intrik, akhirnya hati nuraninya menolak. Ditinggalkanlah kehidupan sebagai pengacara sebagaimana yang ia cita-citakan, banting setir menggeluti bisnis. 

Di masa kuliah, ia sempat juga mengajar di SD, setelah sempat menumpang tinggal di rumah temannya, yang notabennya adalah guru kepala sekolah tempat ia mengajar. Selama mengajar di SD, prinsip-prinsip kepanduan dalam Pramuka, yaitu rajin, jujur, setia dan ingat kepada Tuhan ia tanamkan pada murid-muridnya, bahkan dalam menjalankan bisnisnya pun prinsip ini selalu menjadi panduan yang ia terapkan di perusahaan. Baginya, ke empat prinsip tersebut tidak hanya batas pemahaman saja, tapi harus dipraktekkan dalam hidup. Maka, realisasi penerapan prinsip tersebut harus dimulai dari diri pribadi dalam bentuk suri tauladan; contoh diri. Akumulasi awal penerapan ke empat prinsip ini berupa konsistensinya berangkat kerja tepat waktu dan pulang pun demikian. 

Selama mengajar di SD ada pengalaman tanpa diduga sebelumnya yang menggugah insting bisnisnya, yakni ketika tanpa disengaja, di tempat pangkalan becak biasa nongkrong sekitar sekolah tempat biasa ia mengajar, salah seorang pemilik becak menawarinya becak untuk dibeli. Alasannya, pemilik becak sedang membutuhkan uang. Mendengar tawaran langka ini, segera jiwa bisnisnya membuncah. Tanpa pikir panjang ke empat becak yang sebelumnya telah ditawarkan kepadanya ia beli. 

Selain mengajar dan memiliki bisnis menyewakan becak, ia menjalankan bisnis ayam kate yang ia pelihara sendiri, berawal dari sepasang sampai berjumlah belasan. Kemudian, ayam-ayam kate itu ia jual di Pasar Pramuka.

Namun, dari sekian profesi hidup dan beberapa bisnis yang ia jalankan, ada satu profesi pekerjaan yang kelak akan menjadikannya ikon bisnis pariwisata di Indonesia. Yakni, satu tahun masa akhir kuliahnya di jurusan hukum, ia bekerja di perusahaan agent perjalanan wisata IASA tour & travel sebagai penjual tiket pesawat. Profesi ini merupakan Babak baru perkenalannya dalam dunia kepariwisataan. 

Tahun 1962, ia menjadi pengacara sebagaimana jurusan kuliahnya di bidang hukum. Karena kondisi pada tahun itu, sang bos tempat ia bekerja secara kebetulan adalah seorang pengacara. Bosnya memintanya mengurusi kasus di pengadilan. Namun, hanya 2 tahun saja profesi pengacara ia jalani. 

Tahun 1965, total ia tinggalkan dunia pengacara, lalu memfokuskan diri menekuni bisnis kepariwisataan dengan mendirikan travel yang ia beri nama Djaja Travel, namun bisnisnya tidak berjalan lama. Tutup. Memaksanya kembali bekerja di PT Asia Express; perusahaan perjalanan wisata. 

Selama bekerja dan bergulat dalam dunia perjalanan wisata, ia mendapat julukan unik, yaitu “Adhi With The Yellow Ticket”. Asal-usul julukan tersebut dikarenakan intensitas mobilitasnya selalu menggenggam tiket Lufthansa berwarna kuning; tiket yang berasal dari maskapai penerbangan Jerman. 

Ketika menjual tiket, ia mampu memberikan profit yang besar pada Lufthansa dengan hasil penjualan tiket dengan jumlah yang sangat banyak, menyebabkan ia bisa memperoleh tiket keliling dunia. Yang sebelumnya melalui pengajuannya kepada sang manager. 

Tahun 1967, CV Batemuri berdiri. Perusahaan yang baru ini masih berkecimpung dalam bisnis biro perjalanan wisata, tidak hanya bergerak dalam penjualan tiket, tapi juga memfasilitasi kegiatan tour. Produk jasa tour yang ia bidik pertama kali hanya menjangkau wilayah Jakarta saja, dengan tour keliling kota Jakarta, yang ia namai City Tour. Di fase inilah, bisnisnya berkembang pesat, menyebabkan teman sejewatnya banyak meminta bergabung. Akhirnya, tahun 1971, perusahaannya yang awalnya CV, berubah status menjadi PT.

Setahun kemudian, ia mendirikan perusahaan kembali, yang ia beri nama PT Regina Alta Tours. Perusahaan yang baru ini bergerak dalam bidang yang sama, yakni menjual tiket dan kegiatan tour keliling Jakarta.

Namun, double jabatan kepemilikan dalam suatu perusahaan, membuatnya tidak bisa sepenuhnya fokus mengembangkan bisnis biro perjalanan yang ia dirikan, akhirnya pada tahun 1974, jabatan sebagai direktur PT Batemuri Tours ia tinggalkan. 

Tahun 1975, PT Regina Alta Tours olehnya disisipkan penambahan nama Panorama, sehingga menjadi PT Regina Alta Panorama Tours. Lalu, tahun 1995 nama perusahaanya berubah kembali dengan menghapus sisipan nama: Regina dan Alta, berubah menjadi PT Panorama Tours. 

Penggunaan nama PT Panorama Tours, semakin membuat laju bisnisnya berkembang, ditandai dengan paket produk wisata tour baru, bernama Jakarta Stopover: paket tour pulang-pergi dengan berbagai macam fasilitas berupa perjalanan airport ke hotel, akomodasi, paket city tour selama sehari-semalam.

Tidak hanya puas dititik ini saja, bisnis perjalanan wisatanya menjalin kontrak kerjasama dengan pihak Singapore dan Malaysia Airlines. Di titik ini perusahaannya  menjadi ikon perintis di Indonesia yang menorehkan sejarah sebagai perusahaan perjalanan wisata yang pernah membangun hubungan kerjasama dengan maskapai penerbangan Internasional. Berlanjut, di tahun 1979 hingga 1986, melalui program bernama Emerald Holidays, ia bangun kerjasama dengan pihak maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Adapun Program Emerald Holidays adalah pelopor kegiatan inbound tourism dengan 16 paket wisata berbagi kota di Indonesia. Dan produk bisnisnya berkembang pula pada tersedianya paket Bali & Beyond.

Dalam menelorkan program paket produk wisata baru, ia tak sungkan terjun langsung, survey terlebih dahulu. Sehingga, praktek ini menjadikan paket-paket produk wisatanya cepat berkembang dan sangat dinikmati konsumen. Karena, banyak tujuan objek wisata baru yang ia miliki, yang selama ini masih kurang diberdayakan dan dikembangkan.

***
Buah kerja kerasnya dalam bisnis tour & travel menempatkan Adhi Tirtawisata ke jajaran pebisnis yang sukses. Sehingga, ekspansi bisnisnya membentuk jaringan bisnis berjalin-kelindan dalam satu payung bernama: Panorama Group, meliputi tiga bidang jaringan bisnis, yaitu pariwisata, transportasi dan hospitality. 

Capaian puncak ini menghantarkannya memperoleh berbagai penghargaan baik itu tingkat nasional maupun internasional, dan yang patut saya apresiasi dan acungi jempol ialah penghargaan dari Kementerian Pariwisata Isarel yang diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata Israel, Uzi Landau, kepada Adhi Tirtawisata selaku pemilik PT Panorama Group pada tanggal 25 Desember 2013, terhadap peranannya mendatangkan turis dari Indonesia ke Israel. Padahal, pemerintah Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, bagi saya bukan persoalan, malah upaya ini harus dilanjutkan dan dijalin dengan erat terutama dalam ranah bidang kepariwisataan.

Tulisan sederhana ini semoga melecut semangat saya dan kita semuanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar