Sabtu, 07 Juni 2014

Pengupas Bawang Di Tengah-Tengah Gemerlap Ibu Kota


Cahaya kekuning-kuningan telah hilang dari penglihatan, pertanda malam menggantikan siang. Namun, Jakarta masih ramai dengan segudang aktivitas manusia, tetap hidup laksana kisah 1001 malam.

Kulangkahkan kaki menuju sebuah warung kecil sambil mendengarkan alunan firman Tuhan bertalu-talu memekikkan pendengaran. Berlomba memenangkan titel masjid yang paling ramai dan fasih bacaannya. Deretan kontrakan satu, dua petak berpenghuni satu keluarga duduk lesehan di emperan terlihat masih sibuk dengan sekarung bawang merah, mengejar target penghasilan.

***

Suasana masyarakat tempatku tinggal saat ini, di wilayah Jakarta Timur, Kramat Jati. Kita bisa menyaksikan tiap-tiap kontrakan: ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi, anak-anak mengupas bawang demi memenuhi permintaan juragan-juragan bawang di Pasar Induk. Fenomena inilah yang terus mengusik diriku untuk mengetahui lebih lanjut penghasilan dan sistem kerja sebagai pengupas bawang, sehingga spontan dengan rasa ingin tahu, aku tanyakan pada pemilik warung malam itu, yang kebetulan juga ia sibuk mengupas bawang sambil menunggu pembeli yang singgah di warungnya.

Setalah melakukan wawancara dengannya, jasa bayaran sebagai pengupas bawang memang lumayan untuk menopang kehidupan di Jakarta. Alasan dari pada diam jenuh di rumah tanpa penghasilan mewakili mayoritas masyarakat di sini, selain tentunya himpitan dapur dan biaya anak-anak mereka di sekolah.

***

Adapun upah jasa mengupas bawang satu karung berbobot dua kilo akan diganjar, Rp. 12.000 rupiah, tergantung kecepatan dan tekad saja yang akan meningkatkan penghasilan mereka, kadang ada juga yang satu hari bisa menyelesaikan tiga karung, tapi sangat jarang bila dilakukannya sendiri, biasanya rombongan melibatkan anak, suami dan saudara-saudaranya. 

Juragan bawang setiap hari akan mengambil hasil kupasan bawang yang telah selesai dan akan berlanjut dengan supply karung bawang lainnya. Pembayaran akan mereka peroleh setiap 15 hingga 20 hari berikutnya, tapi mereka bisa saja meminta segera digelontorkan upah jasanya, karena terdesak oleh kebutuhan dapur atau biaya anak-anak mereka di sekolah. 

Hasil kupasan bawang akan dialokasikan untuk memenuhi orderan pihak hotel, restauran, dan lainnya. Permintaan ini akan terus berlanjut selama supplier mampu memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan. 

***

Berkaca dari wawancara spontanitas ini, ada satu pengalaman tersendiri terutama bagi penulis akan geliat ekonomi di ibu kota. Satu sisi ibu kota adalah simbol kemegahan dan kemakmuran, namun ternyata masih saja masyarakat ibu kota terjerembab dalam kenyataan hidup yang jauh dari simbol-simbol yang dicitrakan. Mereka masih harus berkutat dalam kebutuhan primer sehari-hari. Memang, di sekitar tempat saya tinggal mayoritas masyarakatnya adalah pelaku bisnis  dan kuli-kuli di Pasar Induk, tempat berbagai komoditi perdagangan hilir-mudik memenuhi kebutuhan masyarakat di Jakarta. Tapi, hal ini bagi saya adalah “paradoks”. Karena sentra pasar induk setidaknya berbanding lurus dengan kesejahteraan hidup, tapi justru sebaliknya. Salah satu indikator perbandingannya terletak pada upah yang dihasilkan dari jasa pengupas bawang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar