Minggu, 22 Juni 2014

Bukan Meniru, Tapi Hanya Mencontoh Cara Dan Metodenya Saja

Pastinya, kita sering mengidolakan seorang figur ideal untuk dicontoh dalam laku hidup ini. Terlepas mau itu mencontoh figur yang baik atau buruk. Dan sah-sah saja memilih salah satunya. Namun, mencontoh salah satu antara baik atau buruk akan memiliki dampak dan akibat tersendiri. 

Rujukan penerapan mencontoh figur ideal tersebut dalam rentang sejarah kehidupan manusia, awalnya bersumber dari cerita lisan keluarga kita, guru kita, teman kita, atau dari sumber bacaan sejarah selama kita mengenyam pendidikan di bangku sekolah, bahkan ada juga dari pengalaman langsung yang melibatkan panca indra kita sendiri, misalnya, mencontoh ayah kita; karena menyaksikan langsung kedermawanannya, atau teman kita; karena semangat belajarnya. 

Sebagaimana sering kita saksikan juga, seseorang tergila-gila kepada salah satu idolanya, hingga seluruh model rambut, pakaian, tingkah-laku, gaya bicara mencoba sama persis layaknya sang idola. Seolah-olah, ia adalah imitasi dari wujud asli sang idola. Padahal yang dicontoh atau ditiru menggambarkan citra negatif.

Seperti itulah keberadaan manusia, sangat senang dan mudah mencontoh, terutama hal-hal yang unik atau khas tanpa memperdulikan yang dicontoh itu memiliki konotasi baik atau buruk. 

Praktek Bisnis

Praktek mencontoh sesuatu yang ‘ideal’ dalam menjalankan bisnis atau membangun perusahaan merupakan hal lazim yang sering dilakukan pebisnis.  Rujukan idealnya terutama bagi pebisnis atau perusahaan yang sukses. Konteks ini memang hal lumrah, karena sesuatu yang lebih di luar kemampuan rasionalnya, atau ternyata terdapat sisi-sisi di luar jangkauan kenyataan dalam meraihnya, potensi mencontoh sangat besar. Baik itu menyangkut cara atau metode berbisnisnya dalam menjalankan perusahaan, menghasilkan produk yang marketable, cara menjual produk, bahkan ada juga yang secara penuh mencontoh suatu produk tertentu dari orang lain.

Setiap pebisnis atau perusahaan yang mampu menjual sebuah produk atau jasa tertentu dengan kuantitas banyak melalui respon pasar yang positif. Biasanya, hal ini akan menjadi sumber rujukan ‘mencontoh’ kalangan pebisnis atau perusahaan lainnya. Dalam iklim berbisnis yang kompetitif saat ini, praktek tersebut sah-sah saja, asalkan praktek mencontoh itu tidak menyentuh wilayah subtansial kreasi suatu produk, yaitu memflagiat atau menjiplak; dalam arti hasil produk orang lain atau perusahaan lain kita tiru. Tentunya, praktek haram ini harus dihindari oleh kalangan pebisnis. Namun, bila praktek mencontoh hanya sebatas penerapannya dalam hal cara atau metode bisnis potensial, atau misalnya juga menciptakan produk sejenis, namun dengan kreasi orisinil kita yang kreatif dan inovatif. Praktek mencontoh seperti ini harus kita tumbuh dan kembangkan. Sehingga dari sinilah iklim kompetisi yang sehat dan kondusif akan terbentuk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar