Sabtu, 26 April 2014

Berbisnis Cucian Sepedah Motor dan Mobil


Kepemilikan sepedah motor dan mobil di Indonesia selalu menunjukan pelonjakan yang fantastik, ditambah dengan semakin gencarnya produksi sepadah motor dan mobil yang notabennya adalah produk import dari luar, dengan berbagai macam brand baru yang semakin inovatif. Walaupun, secara kemandirian sebagai suatu bangsa yang populasi penduduknya besar di dunia hal itu merupakan fakta miris yang patut kita renungkan. Kita hanya sebagai pangsa pasar produsen saja. Kita hanya objek potensial budaya konsumtif. Lain halnya, bila bangsa ini mampu menciptakan budaya kreatif dan inovatif sebagai produsen yang mampu bersaing. Bangsa ini pastinya memiliki daya saing sebagai bangsa yang pencipta suatu produk tertentu. 

Fakta antrian produk-produk otomotif baru yang release tiap tahunnya yang semakin diminati oleh rakyat ini, bila jeli ternyata menyimpan potensi bisnis jasa, di antaranya bisnis jasa bengkel dan bisnis jasa cuci sepedah motor dan mobil. Hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, jasa cucian motor dan mobil mudah kita temukan. Dengan tarif yang bervariatif jasa cucian ini selalu menjadi alternatif bila motor dan mobil kotor. Tapi, bukan hanya motif kendaraan kotor saja, alasan malas membersihkan motor agar terlihat enak dipandang agaknya merupakan alasan logis yang sering mereka katakan, utamanya mereka yang tinggal di kota besar dengan aktivitas yang super sibuk, atau memang untuk perawatan kondisi kendaraan, agar tidak karatan dan rusak.  

Nah, bila anda memiliki minat untuk berbisnis cucian motor ini ada kriteria yang pada dasarnya adalah hal wajib yang harus dilakukan sebagaimana pelaku bisnis pada umumnya. Di antara kriteria tersebut adalah perlengkapan mencuci berkualitas, lokasi tempat yang strategis; mudah dijangkau dan terlihat banyak orang lalu-lalang melintasi jalan, keramahan karyawan dalam pelayanan, kenyamanan tempat, dan yang terpenting tarif mencuci sebanding dengan kepuasan konsumen.

Di tempat saya tinggal saat ini saja, di Jakarta Timur. Tarif mencuci motor berkisar Rp. 10.000, dan mobil berkisar Rp. 20.000, inilah tarif standar konsumen pada umumnya, tapi ada juga tarif khusus yang bilangan nominalnya lebih, tergantung kualitas alat dan perangkat yang digunakan dalam mencuci, misalnya jenis sabun yang digunakan, atau layanan kebersihannya. 

Tarif per-motor dan per-mobil tersebut bila kita kalkulasikan dengan kuantitas motor yang masuk, pastinya juataan rupiah bisa kita kantongi, bahkan lebih tergantung pelanggan sreg menggunakan jasa pencucian yang anda kelola. Makin banyak konsumen, makin banyak anda memperoleh rupiah. Dan biasanya yang selalu menjadi catatan adalah masalah kebersihan cucian, dimana besar kecilnya tarif cucian terkadang tidak konsumen permasalahkan; yang menjadi unsur utama adalah kebersihan hasil cucian. Oleh sebab itu, kebersihan cucian sealur dengan peralatan dan perangkat mencuci yang berkualitas dan kinerja personal kayawan. Sehingga, jangan sampai peralatan yang berkulitas tidak dimbangi dengan kinerja karyawannya yang berkualitas. Hal ini akan menjadi penilaian berkualitas atau tidaknya bisnis jasa pencucian motor dan mobil anda tersebut. Maka, istilah dokrin kepuasan pelanggan adalah kesuksesan suatu bisnis harus tertanam kuat menjadi suatu budaya. 

Soal penghasilan karyawan yang anda rekrut, anda bisa melakukan perjanjian pemberian upah kerja dengan cara sharing atau bagi hasil. Sehingga, berapa jumlah kendaraan yang masuk menentukan penghasilan karyawan, makin banyak kendaraan yang menggunakan jasa pencucian anda, makin banyak pula penghasilan karyawan terima. Maka, saya usulkan jangan menggunakan sistem gaji, karena hanya menjadikan karyawan malas dan layaknya robot. Karyawan tidak memiliki tuntutan dan tanggung jawab terhadap keseluruhan bisnis yang anda kelola. Maju tidaknya bisnis tidak selalu harus menjadi tanggung jawab pemiliki bisnis, tapi karyawan juga. Dalam perjalanan bisnis, salah satu antara karyawan dan pemilik bisa saling support dan dukung. Setiap langkah keberhasilan dan kegagalan bisnis dapat saling perhatikan. Misalnya, kok jumlah kendaraan yang masuk berkurang, disinilah pemilik dan karyawan saling mengoreksi; oh ternyata pemilik kurang memperhatikan kualitas peralatannya, atau malah karyawannya malas, dan tak perduli kebersihan hasil cucian. Dengan adanya sistem sharing penghasilan ini, setiap aktivitas penuh tuntutan bisnis, keseriusan dan evaluasi yang membangun.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar